Pada dasarnya suatu tempat ( wadah / ruang ) mempunyai suatu keterbatasan jumlah ( dalam hal ini isi / kapasitas ). Misalnya sebuah gelas, apabila diisi dengan air melebihi kapasitasnya maka air yang ada akan me luap keluar, contoh lain yaitu sebuah bendungan apabila terisi air melebihi kapasiatas bendungan tersebut, maka air juga akan meluap keluar. Apa yang terjadi apabila di dalam suatu tempat parkir dipenuhi oleh kendaraan yang melebihi kapasitas tempat parkir tersebut, yang terjadi adalah tempat parkir tersebut menjadi penuh dan tidak nyaman.Dari pengalaman yang sering terjadi seperti diatas maka kendaraan yang masuk kedalam tempat parkir tersebut perlu dibatasi. Contohnya apabila didalam ruangan tersebut memiliki kapasitas maksimum 50 kendaraan, maka perlu dibatasi antar 45 – 50 kendaraan agar kenyamanan di dalam tempat parkir tersebut tetap terjga. Uang menjadi permasalahn berikutnya adalah bagaimana caranya membatasi jumlah kendaraan yang telah berada di dalam tempat parkir ataupun yang telah meninggalkan tempat parkir tersebut. Oleh sebab itu dalam hal ini diperlukan sebuah alat penghitung yang dapat secara otomatis menghitung jumalah kendaraan yang masuk maupun meninggalkan tempat parkir tersebut yang akan mempermudah mengetahui jumlah kendaraan yang telah berada di dalam tempat parkir apakah sudah penuh atau tidak.Dalam kesepakatan penysunan PI ini penulis berinisiatif untuk membuat alat tersebut dengan menggunakan photo transistor sebagai sensor dan se buah mikrokontroler AT89S51-40 pin / 2-Kbyte ( tempat penyimpanan program ) yang akan menghitung (mencacah ) jumlah kendaraan yang masuk maupun meninggalkan tempat parkir tersebut.Dan alat ini tersebut diberi nama “Sensor Pengitung Masuk Dan Keluar Kendaraan PadaTempat Parkir Berbasiskan Mikrokontroler AT89S51.
-Abstraksi-
-BAB I :Pendahuluan
Kami
Penulis
-BAB II :Landasan Teori #penulis
-BAB III:Rancangan Sistem
-BAB IV :Uji Coba dan Analisa
-BAB V :Penutup
*Kesimpulan
*Saran
-Kata Pengantar-
Penulis
Pembaca
Kesimpulan:Hasil kata ganti orang yang sudah saya baca dalam penulisan ilmiah ini terdiri dari:
Kami :1 Kata
Penulis :6 Kata
Pembaca :1 Kata
PENULISAN ILMIAH TAHUN 2008
Jurusan :Teknik Komputer judul : parking sensor
Kata-kata baku adalah kata-kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kebakuan kata amat ditentukan oleh tinjauan disiplin ilmu bahasa dari berbagai segi yang ujungnya menghasilkan satuan bunyi yang amat berarti sesuai dengan konsep yang disepakati terbentuk.
Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan.
Dalam Pedoman UmumPembentukan istilah (PUPI)diterangkan sistem pembentukqan istilah serta pengindonesiaan kosa kata atau istilah yang berasal dari bahasa asing. Bila kita memedomani sistem tesebut akan telihat keberaturan dan kemanapan bahasa Indonesia.
Kata baku sebenanya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.
Suatu kata bisa diklasifikasikan tida baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur.
Baku - Tidak Baku Apotek - apotik Atlet - atlit Cenderamata - cinderamata Konkret - konkrit Sistem - sistim Telepon - tilpon Pertanggungjawaban - pertanggung jawaban utang - hutang pelanggan - langganan hakikat - hakekat kaidah - kaedah dipersilakan - dipersilahkan anggota - anggauta pihak - fihak disahkan - disyahkan lesung pipi - lesung pipit mengubah - merubah mengesampingkan- mengenyampingkan Kualitas - kwalitas Universitas - university Teater - theatre Struktur - structure Monarki - monarkhi Devaluasi - defaluasi Abstrak - abstrac Kultur - culture Deputi - deputy Sekuriti - Security Aktivitas - aktifitas Relatif - relative Repertoar - repertoire Teknologi - tekhnologi; technologi Elektronik - electronik Direktur - director Konduite - kondite Akuarium - aquarium Kongres - konggres Hierarki - hirarkhi Aksi - action Psikiatri - psychiatry
Grup - group Rute - route Institut - institute Aki - accu Taksi - taxi sekadar - sekedar
VIVAnews –AMD sedang mempersiapkan VGA terbarunya yakni Radeon HD 4770. Kabar baiknya adalah, kartu grafis ini hanya mengonsumsi daya maksimum sebesar 80 watt. Konsumsi daya tersebut hanya 5 watt lebih banyak daripada yang sanggup dihadirkan oleh slot PCI Express yakni 75 watt
Sebagai informasi, kartu grafis PCI Express yang mengonsumsi daya maksimum 75 watt ke bawah tidak membutuhkan konektor power tambahan. Sebagai perbandingan, slot AGP yang marak digunakan sebelum PCI Express sebagai slot untuk kartu grafis hanya mampu menyediakan daya sebanyak 25 watt.
Meski informasinya belum final, kabarnya kartu grafis baru itu memiliki core yang bekerja pada kecepatan 750MHz. Adapun memori video berupa GDDR5 yang digunakan berjalan pada kecepatan 800MHz. Kartu grafis Radeon HD 4770 yang berbasis chip RV740 ini merupakan produk kartu VGA desktop pertama mereka yang dijual di pasaran yang menggunakan proses manufaktur 40 nanometer pertama.
Menurut informasi yang VIVAnews kutip dari Fudzilla, 30 Maret 2009, AMD juga menyiapkan varian Radeon HD 4750 yang juga menggunakan chip RV740 namun dipasangkan dengan chip memori GDDR3. Meski belum ada kepastian, kemungkinan besar kartu VGA ini akan hadir tanpa menggunakan konektor power tambahan. Adapun jadwal peluncuran versi ekonomis dari HD 4770 ini dijadwalkan pada minggu pertama Mei 2009.AMD ingin produk-produk VGA ini bersaing dengan GeForce 9800GT dan dijual di kisaran harga 99 dolar AS.
GeForce GTS 240 merupakan 9800GT
VIVAnews - Nvidia akan menghadirkan VGA seri “terbaru” di kelas mainstream yakni GeForce GTS 250. Kartu grafis itu akan digelar pertamakali bertepatan dengan pameran komputer dan IT tahunan terbesar yakni CeBIT yang berlangsung di Hannover, Jerman, 3-8 Maret 2009 mendatang.Meski memiliki nama baru, menurut pengamatan VR-Zone yang VIVAnews kutip 25 Februari 2009, kartu VGA tersebut tidak ada bedanya dengan kartu grafis terdahulu yang menggunakan chip G92b yang diproduksi dengan proses manufaktur 55 nanometer.
Dari skema diagram terlihat bahwa GeForce GTS 240 itu merupakan GeForce 9800GT yang dipasangkan pada PCB baru. VR Zone juga menunjukkan bahwa Nvidia memang terlihat telah memperbaiki penggunaan daya pada chip ketika bekerja, khususnya di area voltage regulation module. Tetapi tidak ada perbedaan signifikan di luar itu dibanding GeForce 9800GT kecuali sedikit penambahan clock speed. VGA tetap menggunakan konektor daya PCI-Express 6 pin, dan sebuah konektor bridge SLI untuk 2-way SLI. Sebagai informasi, GeForce 9800GT sendiri sebenarnya merupakan GeForce 8800GT yang diganti namanya dan dijual kembali ke pasar. Dari sisi arsitektur, kedua chip GPU sama persis. Yang membedakan keduanya hanyalah teknologi produksi yang digunakan. Chip G92b yang dipasang pada GeForce 9800GT sudah dibuat dalam proses 55 nanometer, sedangkan GPU seri 8800GT masih dibuat dalam proses 65nm. Berhubung diproduksi dengan teknologi manufaktur yang lebih baik, G92b mampu bekerja lebih dingin dibanding G92. Sebelum ini, Nvidia juga sudah mengumumkan akan hadirnya GeForce GTS 250, yang pada dasarnya adalah GeForce 9800GTX+ yang merupakan GeForce 8800GTS yang berubah namanya setelah mendapatkan update proses manufaktur.
•Istilah ini bukan saja digunakan untuk
menyatakan gagasan/ m’ceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa,
ungkapan-ungkapan dsb.
•Gaya
bahasa sbg bagian dr diksi yg bertalian dg ungkapan2 individu atau
karakteristik, atau memiliki nilai artistik yg tinggi.
•Pilihan
kata bukanlah masalah sederhana krn menyangkut persoalan yg bersifat dinamis,
inovatif, & kreatif sejalan dg perkembangan masy penunturnya.
•Penulis
yang blm berpengalaman sangat sulit u/ m’ungkapkan ide / gagasan & biasanya
sangat miskin variasi bahasa. Akan
tetapi, ada pula penulis yg sangat boros / tdk efektif m’gunakan perbendaharaan
kata, shg tdk ada isi yg terdpt di balik kata-katanya.
•Kata2
atau istilah tdk hanya sekedar mengemban nilai2 indah (estetis), melainkan juga
nilai2 filosofi dan pedagogis krn dpt digunakan penulis u/
menyimpan pesona makna yg terselubung / simbolis, shg u/ memahaminya diperlukan
interpretasi & renungan2 yg dlm.
•Sebelum
menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni:
masalah makna dan relasi makna.
•Makna
sebuah kata / sebuah kalimat mrpkan makna yg tdk sll berdiri sendiri. Adapun
makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas bbrp kelompok yaitu :
Makna Leksikal dan makna Gramatikal
Makna Referensial dan Nonreferensial
Makna Denotatif dan Konotatif
Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna Kata dan Makna Istilah
Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Makna Kias dan Lugas
•Relasi
adlh hub makna yg menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna
(antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna
(hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi) dan
sebagainya.
•Adapun
relasi makna terbagi atas bbrp kelompok yaitu :
Kesamaan
Makna (Sinonim)
Kebalikan
Makna (Antonim)
Kegandaan
Makna (Polisemi dan Ambiguitas)
Ketercakupan
Makna (Hiponimi)
Kelebihan
Makna (Redundansi)
Agar usaha mendayagunakan teknik
penceritaan yg menarik lewat pilihan kata maka diksi yg baik harus …
•Tepat memilih kata u/ m’ungkapkan gagasan / hal
yg ‘diamanatkan’
•Diperlukan kemampuan u/ m’bedakan secara tepat
nuansa-nuansa makna sesuai dg gagasan yg ingin disampaikan & kemampuan u/
menemukan bentuk yg sesuai dg situasi & nilai rasa pembacanya.
•Pilihan kata yg tepat & sesuai hanya mungkin
kalau penulis/pengarang menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan kata) yg
dimiliki masy bahasanya, serta mampu m’gerakkan & m’dayagunakan kekayaannya
itu mjd jaring2 kalimat yg jelas & efektif
Contoh pengunaan diksi dlm cerita fiktif misalnya
penggunaan metafora, anafora, litotes, simile, personafikasi dsb (lih. buku
Diksi & Gaya Bahasa, karya Gorys Keraf yang diterbitkan pada tahun 1981:
18)
•Anda
Pernah dengar ”KalimatSejuta Umat” ?
•”Kalimat
Sejuta Umat” juga berarti
suatu trademark yg dikeluarkan o/ suatu individu, yg pd akhirnya diikuti
o/ individu atau kelompok lain.
•”Kalimat
Sejuta Umat” tidak sama
dg kutipan / Quote, meski adakalanya sejenis.
•”Kalimat
Sejuta Umat” ada krn
wabah / tren yg terjadi shg dalam segelintir kasus, penyebarnya seringkali anonymous.
•Bahkan
dpt dibilang bhw kata2 tsb beredar dlm kelas sosial ttt dg intensitas yg
tinggi,bisa jadi krn tren semusim, yg besok2 mungkin sudah tersapu o/ waktu.
•Susunan
kata2pun spt itu pun ada yg bertolak mjd sebuah mainstream.
•Kadang
kala diperuntukkan bagi kaum2 yg baru mengenal suatu pola kata unik. Biasanya digunakan sebagai kal penutup /
kal pembuka bagi sebuah perbincangan. Bisa juga menjadi sisipan, atau mjd kal satir
pelengkap suatu artikel.
•”Kalimat
Sejuta Umat” juga sering
diterapkan dlm bbrp iklan, tentunya dengan berbagai modifikasi. Semisalnya saja
judul film dari “Mengejar Mas - Mas” yg pd akhirnya pernah digubah mjd
kal sejenis “Mengejar Emas - Emas” yg pernah diluncurkan sebuah bank.
•Ya,
bukan hanya Nokia 3315 saja yg pantas diberi gelar seperti itu, ttp Kyai/ustad,
dsb.
Fakta yg ada di
sekitar lingkungan kita adlh :
“Aku suka kamu !
Aku Cinta banget sama kamu !
Mau nggak kamu jadi pacar aku ?!
Soal aku jatuh hati banget sama kamu !”
•Adlh
kal yg sering dilontarkan o/ remaja2 yg sedang mabuk kepayang. Biasanya
diucapkan di berbagai reality show sejenis, atau malah hanya ketika
seorang Adam “menembak jatuh” seorang Hawa.
•Ah,
ada kalanya juga kombinasi kalimat ini disertai dg puisi atau 99 tangkai mawar.
“Aku mau bunuh diri aja
!”
“Aku mau kabur dari rumah
saja !”
•Kalau
kalimat model ini sering diucapkan di sinetron2 tatkala seorang individu
berusaha u/ memaksakan pendapatnya melalui cara yg tdk berperikemanusiaan.
•Alasannya
mungkin krn dunia / Tuhan yg dianggap tidak adil, atau hanya krn perlakuan
orang lain tdk sesuai kpd dirinya, atau krn memasang harga diri terlalu tinggi.
•Tapi
akhir - akhir ini sering diterapkan oleh segelintir manusia di dunia nyata.
•
“Kami berada di jalan
Allah ! Allahuakbar !“
•Merasa
organisasi Anda berada dlm jalan yg paling nomor satu ? Gunakan ini.
•Kadang
kala pas apabila formatnya sbb:
“[Nama aliran] itu sungguh
berada dalam jalan yang sesat !!!”
•Sebenarnya
mirip spt penjual nama organisasi di atas, hanya saja yg dijualnya itu sebuah
produk. ;)
“*Sesuai dengan Ketentuan yang berlaku.”
“*Rules may Apply”
“*Syarat dan Ketentuan Berlaku”
•Adlh
kal sakit mandraguna yg akan dipakai o/ orang2 ketika mereka sedang
menggembar - gemborkan produk mereka.
“Hanya 1 Rupiah !!!!”
diikuti tanda bintang mungkin adlh jurus yg diharapkan dpt membuat mangsa
tertipu.
Parahnya lagi, Pemerintah pun
ikut2an latah:
“Merokok dapat
Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan Kehamilan dan
Janin“
•Ini
adlh suatu kal yg tadinya diharapkan o/ pemerintah dpt menanggulangi keberadaan
perokok. Akan tetapi karena nilai cukai yg ditawarkan produsen rokok mencapai 9 trilyun,
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.
Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh
Ragam bahasa lisan Ragam bahasa tulis
1. Putri bilang kita harus pulang 1. Putri mengatakan bahwa kita harus pulang
2. Ayah lagi baca koran 2. Ayah sedang membaca koran
3. Saya tinggal di Bogor3. Saya bertempat tinggal di Bogor
B.Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur
Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek). Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak padapelafalan/b/pada posisiawal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
contoh:
1) Ira mau nulis suratàIra mau menulis surat
2) Saya akan ceritakan tentang Kancil àSaya akan menceritakan tentang Kancil.
Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur. Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam situasi resmi/formal, baik lisan maupun tulisan.
Bahasa baku dipakai dalam :
a.pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran;
b.pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat;
c.komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang;
d.wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.
Segi kebahasaan yang telah diupayakan pembakuannya meliputi
a.tata bahasa yang mencakup bentuk dan susunan kata atau kalimat, pedomannya adalah buku Tata Bahasa Baku Indonesia;
b.kosa kata berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI);
c.istilah kata berpedoman pada Pedoman Pembentukan Istilah;
d.ejaan berpedoman pada Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD);
e.lafal baku kriterianya adalah tidak menampakan kedaerahan.
C.Ragam bahasa menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran; improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum; pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.
sahabatku………
seberat apapun masalahmu
sekelam apapun beban hidupmu
jangan pernah berlari darinya
ataupun bersembunyi
agar kau tak akan bertemu dengannya
atau agar kau bisa menghindar darinya
karena sahabat….