Senin, 01 Maret 2010

LATAR BELAKANG PI PARKING SENSOR

Latar Belakang Masalah
          Pada dasarnya suatu tempat ( wadah / ruang ) mempunyai suatu keterbatasan jumlah ( dalam hal ini isi / kapasitas ). Misalnya sebuah gelas, apabila diisi dengan air melebihi kapasitasnya maka air yang ada akan me luap keluar, contoh lain yaitu sebuah bendungan apabila terisi air melebihi kapasiatas bendungan tersebut, maka air juga akan meluap keluar. Apa yang terjadi apabila di dalam suatu tempat parkir dipenuhi oleh kendaraan yang melebihi kapasitas tempat parkir tersebut, yang terjadi adalah tempat  parkir tersebut menjadi penuh dan tidak nyaman.Dari pengalaman yang sering terjadi seperti diatas maka kendaraan yang masuk  kedalam tempat parkir tersebut perlu dibatasi. Contohnya apabila didalam ruangan tersebut memiliki kapasitas maksimum 50 kendaraan, maka perlu dibatasi antar 45 – 50 kendaraan agar kenyamanan di dalam tempat parkir tersebut tetap terjga. Uang menjadi permasalahn berikutnya adalah bagaimana caranya membatasi jumlah kendaraan yang telah berada di dalam tempat parkir ataupun yang telah meninggalkan tempat parkir tersebut. Oleh sebab itu dalam hal ini diperlukan sebuah alat penghitung yang dapat secara otomatis menghitung jumalah kendaraan yang masuk maupun meninggalkan tempat parkir tersebut yang akan mempermudah mengetahui jumlah kendaraan yang telah berada di dalam tempat parkir apakah sudah penuh atau tidak.Dalam kesepakatan penysunan PI ini penulis berinisiatif untuk membuat alat tersebut dengan menggunakan photo transistor sebagai sensor dan se buah mikrokontroler AT89S51-40 pin / 2-Kbyte ( tempat penyimpanan program ) yang akan menghitung (mencacah ) jumlah kendaraan yang masuk maupun meninggalkan tempat parkir tersebut.Dan alat ini tersebut diberi nama “Sensor Pengitung Masuk Dan Keluar Kendaraan PadaTempat Parkir Berbasiskan Mikrokontroler AT89S51.

Senin, 22 Februari 2010

PENULISAN ILMIA

-Abstraksi-
-BAB I :Pendahuluan
Kami
Penulis
-BAB II :Landasan Teori

#penulis
-BAB III:Rancangan Sistem
-BAB IV :Uji Coba dan Analisa
-BAB V :Penutup
*Kesimpulan
*Saran
-Kata Pengantar-
Penulis
Pembaca

Kesimpulan:Hasil kata ganti orang yang sudah saya baca dalam penulisan ilmiah ini terdiri dari:
Kami :1 Kata
Penulis :6 Kata
Pembaca :1 Kata

PENULISAN ILMIAH TAHUN 2008
Jurusan :Teknik Komputer

judul : parking sensor 

Selasa, 05 Januari 2010

KATA BAKU DAN TIDAK BAKU

      Kata-kata baku adalah kata-kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kebakuan kata amat ditentukan oleh tinjauan disiplin ilmu bahasa dari berbagai segi yang ujungnya menghasilkan satuan bunyi yang amat berarti sesuai dengan konsep yang disepakati terbentuk.

Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan.

Dalam Pedoman UmumPembentukan istilah (PUPI)diterangkan sistem pembentukqan istilah serta pengindonesiaan kosa kata atau istilah yang berasal dari bahasa asing. Bila kita memedomani sistem tesebut akan telihat keberaturan dan kemanapan bahasa Indonesia.

Kata baku sebenanya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.

Suatu kata bisa diklasifikasikan tida baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur.


Baku - Tidak Baku
Apotek - apotik
Atlet - atlit
Cenderamata - cinderamata
Konkret - konkrit
Sistem - sistim
Telepon - tilpon
Pertanggungjawaban - pertanggung jawaban
utang - hutang
pelanggan - langganan
hakikat - hakekat
kaidah - kaedah
dipersilakan - dipersilahkan
anggota - anggauta
pihak - fihak
disahkan - disyahkan
lesung pipi - lesung pipit
mengubah - merubah
mengesampingkan- mengenyampingkan
Kualitas - kwalitas
Universitas - university
Teater - theatre
Struktur - structure
Monarki - monarkhi
Devaluasi - defaluasi
Abstrak - abstrac
Kultur - culture
Deputi - deputy
Sekuriti - Security
Aktivitas - aktifitas
Relatif - relative
Repertoar - repertoire
Teknologi - tekhnologi; technologi
Elektronik - electronik
Direktur - director
Konduite - kondite
Akuarium - aquarium
Kongres - konggres
Hierarki - hirarkhi
Aksi - action
Psikiatri - psychiatry
Grup
- group
Rute - route
Institut - institute
Aki - accu
Taksi - taxi
sekadar - sekedar

Senin, 04 Januari 2010

Radeon HD 4770, VGA Hemat Energi



VIVAnews –AMD sedang mempersiapkan VGA terbarunya yakni Radeon HD 4770. Kabar baiknya adalah, kartu grafis ini hanya mengonsumsi daya maksimum sebesar 80 watt. Konsumsi daya tersebut hanya 5 watt lebih banyak daripada yang sanggup dihadirkan oleh slot PCI Express yakni 75 watt
Sebagai informasi, kartu grafis PCI Express yang mengonsumsi daya maksimum 75 watt ke bawah tidak membutuhkan konektor power tambahan. Sebagai perbandingan, slot AGP yang marak digunakan sebelum PCI Express sebagai slot untuk kartu grafis hanya mampu menyediakan daya sebanyak 25 watt.
Meski informasinya belum final, kabarnya kartu grafis baru itu memiliki core yang bekerja pada kecepatan 750MHz. Adapun memori video berupa GDDR5 yang digunakan berjalan pada kecepatan 800MHz. Kartu grafis Radeon HD 4770 yang berbasis chip RV740 ini merupakan produk kartu VGA desktop pertama mereka yang dijual di pasaran yang menggunakan proses manufaktur 40 nanometer pertama.
Menurut informasi yang VIVAnews kutip dari Fudzilla, 30 Maret 2009, AMD juga menyiapkan varian Radeon HD 4750 yang juga menggunakan chip RV740 namun dipasangkan dengan chip memori GDDR3. Meski belum ada kepastian, kemungkinan besar kartu VGA ini akan hadir tanpa menggunakan konektor power tambahan. Adapun jadwal peluncuran versi ekonomis dari HD 4770 ini dijadwalkan pada minggu pertama Mei 2009.AMD ingin produk-produk VGA ini bersaing dengan GeForce 9800GT dan dijual di kisaran harga 99 dolar AS.


GeForce GTS 240 merupakan 9800GT




VIVAnews - Nvidia akan menghadirkan VGA seri “terbaru” di kelas mainstream yakni GeForce GTS 250. Kartu grafis itu akan digelar pertamakali bertepatan dengan pameran komputer dan IT tahunan terbesar yakni CeBIT yang berlangsung di Hannover, Jerman, 3-8 Maret 2009 mendatang.Meski memiliki nama baru, menurut pengamatan VR-Zone yang VIVAnews kutip 25 Februari 2009, kartu VGA tersebut tidak ada bedanya dengan kartu grafis terdahulu yang menggunakan chip G92b yang diproduksi dengan proses manufaktur 55 nanometer.
Dari skema diagram terlihat bahwa GeForce GTS 240 itu merupakan GeForce 9800GT yang dipasangkan pada PCB baru. VR Zone juga menunjukkan bahwa Nvidia memang terlihat telah memperbaiki penggunaan daya pada chip ketika bekerja, khususnya di area voltage regulation module. Tetapi tidak ada perbedaan signifikan di luar itu dibanding GeForce 9800GT kecuali sedikit penambahan clock speed. VGA tetap menggunakan konektor daya PCI-Express 6 pin, dan sebuah konektor bridge SLI untuk 2-way SLI. Sebagai informasi, GeForce 9800GT sendiri sebenarnya merupakan GeForce 8800GT yang diganti namanya dan dijual kembali ke pasar. Dari sisi arsitektur, kedua chip GPU sama persis. Yang membedakan keduanya hanyalah teknologi produksi yang digunakan. Chip G92b yang dipasang pada GeForce 9800GT sudah dibuat dalam proses 55 nanometer, sedangkan GPU seri 8800GT masih dibuat dalam proses 65nm. Berhubung diproduksi dengan teknologi manufaktur yang lebih baik, G92b mampu bekerja lebih dingin dibanding G92. Sebelum ini, Nvidia juga sudah mengumumkan akan hadirnya GeForce GTS 250, yang pada dasarnya adalah GeForce 9800GTX+ yang merupakan GeForce 8800GTS yang berubah namanya setelah mendapatkan update proses manufaktur.

Sabtu, 21 November 2009

DIKSI

 
DIKSI
          Diksi dpt diartikan sbg pilihan kata pengarang u/ m’gambarkan cerita mereka.
          Diksi bukan hanya berarti pilih-memilih kata.
          Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan/ m’ceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dsb.
          Gaya bahasa sbg bagian dr diksi yg bertalian dg ungkapan2 individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yg tinggi.
          Pilihan kata bukanlah masalah sederhana krn menyangkut persoalan yg bersifat dinamis, inovatif, & kreatif sejalan dg perkembangan masy penunturnya.
          Penulis yang blm berpengalaman sangat sulit u/ m’ungkapkan ide / gagasan & biasanya sangat miskin variasi bahasa.  Akan tetapi, ada pula penulis yg sangat boros / tdk efektif m’gunakan perbendaharaan kata, shg tdk ada isi yg terdpt di balik kata-katanya.
          Kata2 atau istilah tdk hanya sekedar mengemban nilai2 indah (estetis), melainkan juga nilai2 filosofi dan pedagogis krn dpt digunakan penulis u/ menyimpan pesona makna yg terselubung / simbolis, shg u/ memahaminya diperlukan interpretasi & renungan2 yg dlm.
          Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna.
          Makna sebuah kata / sebuah kalimat mrpkan makna yg tdk sll berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas bbrp kelompok yaitu :
Makna Leksikal dan makna Gramatikal
Makna Referensial dan Nonreferensial
Makna Denotatif dan Konotatif
Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna Kata dan Makna Istilah
Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Makna Kias dan Lugas


          Relasi adlh hub makna yg menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi) dan sebagainya.
          Adapun relasi makna terbagi atas bbrp kelompok yaitu :
  1. Kesamaan Makna (Sinonim)
  2. Kebalikan Makna (Antonim)
  3. Kegandaan Makna (Polisemi dan Ambiguitas)
  4. Ketercakupan Makna (Hiponimi)
  5. Kelebihan Makna (Redundansi)

Agar usaha mendayagunakan teknik penceritaan yg menarik lewat pilihan kata maka diksi yg baik harus  …

          Tepat memilih kata u/ m’ungkapkan gagasan / hal yg ‘diamanatkan’
          Diperlukan kemampuan u/ m’bedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dg gagasan yg ingin disampaikan & kemampuan u/ menemukan bentuk yg sesuai dg situasi & nilai rasa pembacanya.
          Pilihan kata yg tepat & sesuai hanya mungkin kalau penulis/pengarang menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan kata) yg dimiliki masy bahasanya, serta mampu m’gerakkan & m’dayagunakan kekayaannya itu mjd jaring2 kalimat yg jelas & efektif

Contoh pengunaan diksi dlm cerita fiktif misalnya penggunaan metafora, anafora, litotes, simile, personafikasi dsb (lih. buku Diksi & Gaya Bahasa, karya Gorys Keraf yang diterbitkan pada tahun 1981: 18) 
          Anda Pernah dengar ”Kalimat Sejuta Umat” ?
          ”Kalimat Sejuta Umat” juga berarti suatu trademark yg dikeluarkan o/ suatu individu, yg pd akhirnya diikuti o/ individu atau kelompok lain.
          ”Kalimat Sejuta Umat” tidak sama dg kutipan / Quote, meski adakalanya sejenis. 
          ”Kalimat Sejuta Umat” ada krn wabah / tren yg terjadi shg dalam segelintir kasus, penyebarnya seringkali anonymous.
          Bahkan dpt dibilang bhw kata2 tsb beredar dlm kelas sosial ttt dg intensitas yg tinggi, bisa jadi krn tren semusim, yg besok2 mungkin sudah tersapu o/ waktu.
          Susunan kata2pun spt itu pun ada yg bertolak mjd sebuah mainstream.
          Kadang kala diperuntukkan bagi kaum2 yg baru mengenal suatu pola kata unik. Biasanya digunakan sebagai kal penutup / kal pembuka bagi sebuah perbincangan. Bisa juga menjadi sisipan, atau mjd kal satir pelengkap suatu artikel.
          ”Kalimat Sejuta Umat” juga sering diterapkan dlm bbrp iklan, tentunya dengan berbagai modifikasi. Semisalnya saja judul film dari “Mengejar Mas - Mas” yg pd akhirnya pernah digubah mjd kal sejenis “Mengejar Emas - Emas” yg pernah diluncurkan sebuah bank.
          Ya, bukan hanya Nokia 3315 saja yg pantas diberi gelar seperti itu, ttp Kyai/ustad, dsb.

Fakta yg ada di sekitar lingkungan kita adlh :

“Aku suka kamu !
Aku Cinta banget sama kamu !
Mau nggak kamu jadi pacar aku ?!
Soal aku jatuh hati banget sama kamu !”

          Adlh kal yg sering dilontarkan o/ remaja2 yg sedang mabuk kepayang. Biasanya diucapkan di berbagai reality show sejenis, atau malah hanya ketika seorang Adam “menembak jatuh” seorang Hawa.
          Ah, ada kalanya juga kombinasi kalimat ini disertai dg puisi atau 99 tangkai mawar.


“Aku mau bunuh diri aja !”
“Aku mau kabur dari rumah saja !”

          Kalau kalimat model ini sering diucapkan di sinetron2 tatkala seorang individu berusaha u/ memaksakan pendapatnya melalui cara yg tdk berperikemanusiaan.
          Alasannya mungkin krn dunia / Tuhan yg dianggap tidak adil, atau hanya krn perlakuan orang lain tdk sesuai kpd dirinya, atau krn memasang harga diri terlalu tinggi.
          Tapi akhir - akhir ini sering diterapkan oleh segelintir manusia di dunia nyata.
           
“Kami berada di jalan Allah ! Allahuakbar !“

          Merasa organisasi Anda berada dlm jalan yg paling nomor satu ? Gunakan ini.
          Kadang kala pas apabila formatnya sbb:

[Nama aliran] itu sungguh berada dalam jalan yang sesat !!!

 (juga dimasukkan, demi menambah bumbu kerusakan)

Hanya kami yang bisa begini

          Sebenarnya mirip spt penjual nama organisasi di atas, hanya saja yg dijualnya itu sebuah produk. ;)

“*Sesuai dengan Ketentuan yang berlaku.”
“*Rules may Apply”
“*Syarat dan Ketentuan Berlaku”

          Adlh kal sakit mandraguna yg akan dipakai o/ orang2 ketika mereka sedang menggembar - gemborkan produk mereka.

Hanya 1 Rupiah !!!!

diikuti tanda bintang mungkin adlh jurus yg diharapkan dpt membuat mangsa tertipu.

Parahnya lagi, Pemerintah pun ikut2an latah:

Merokok dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan Kehamilan dan Janin

          Ini adlh suatu kal yg tadinya diharapkan o/ pemerintah dpt menanggulangi keberadaan perokok. Akan tetapi karena nilai cukai yg ditawarkan produsen rokok mencapai  9 trilyun,
          Kata - kata ini terkesan kurang optimal



Jumat, 20 November 2009

RAGAM BAHASA

A. Ragam bahasa berdasarkan media/sarana
  1. Ragam bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.
  1. Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh
Ragam bahasa lisan Ragam bahasa tulis
1. Putri bilang kita harus pulang 1. Putri mengatakan bahwa kita harus pulang
2. Ayah lagi baca koran 2. Ayah sedang membaca koran
3. Saya tinggal di Bogor 3. Saya bertempat tinggal di Bogor

B. Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur
  1. Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek). Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak padapelafalan/b/pada posisiawal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
  2. Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
contoh:
1) Ira mau nulis surat à Ira mau menulis surat
2) Saya akan ceritakan tentang Kancil à Saya akan menceritakan tentang Kancil.
  1. Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur. Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam situasi resmi/formal, baik lisan maupun tulisan.
Bahasa baku dipakai dalam :
a. pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran;
b. pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat;
c. komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang;
d. wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.
Segi kebahasaan yang telah diupayakan pembakuannya meliputi
a. tata bahasa yang mencakup bentuk dan susunan kata atau kalimat, pedomannya adalah buku Tata Bahasa Baku Indonesia;
b. kosa kata berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI);
c. istilah kata berpedoman pada Pedoman Pembentukan Istilah;
d. ejaan berpedoman pada Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD);
e. lafal baku kriterianya adalah tidak menampakan kedaerahan.
C. Ragam bahasa menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnya masjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran; improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum; pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.

PUISI

SAHABAT

sahabatku………
seberat apapun masalahmu
sekelam apapun beban hidupmu
jangan pernah berlari darinya
ataupun bersembunyi
agar kau tak akan bertemu dengannya
atau agar kau bisa menghindar darinya
karena sahabat
….
KAU YANG SELALU MEMBUATKU TERSENYUM